Minggu, 13 September 2009

Tidak dianggap (Lukas 19:1-10)

Saya yakin banyak diantara teman-teman yang telah mengetahui atau mungkin telah sering kali mendengarkan khotbah tentang perikop zakheus ini, memang perikop ini cukup popular dan sering di khotbahkan, bahkan ketika kita masih di sekolah minggu pun perikop tentang zakheus ini sudah sering kita dengar diceritakan oleh kakak-kakak sekolah minggu kita.
Saya ingat ada seorang pendeta yang menceritakan pengalamannya ketika ia membahas perikop zakheus ini dalam khotbanya didepan remaja-remaja dalam kebaktian komisi remaja disalah satu gereja. Seperti biasa ketika memulai membahas perikop ini pendeta menyuruh para remaja itu untuk membacanya sendiri-sendiri dan kemudian mencari tahu menurut mereka apa yang menarik dari perikop zakheus ini dan mengapa bagian itu menarik untuk mereka. Setelah selesai waktu yang diberikan pendeta ini untuk para remaja itu membaca sendiri-sendiri, kini pendeta ini mulai menanyakan satu persatu apa yang didapatkan oleh remaja-remaja ini, seperti dugaan pendeta ini, memang perikop ini sudah cukup popular dan sering di khotbahkan sehingga ketika remaja-remaja ini diminta menjelaskan apa yang menarik bagi mereka dalam perikop ini, sebagian besar dari remaja ini menjelaskan dengan sama yaitu yang menarik bagi mereka adalah bagaimana usaha zakheus untuk bertemu Yesus, sebagian lagi menganggap bagian dimana yesus mau datang dan makan bersama-sama dengan zakheus dirumahnya menjadi bagian yang penting untuk mereka karena dari bagian itu mereka melihat bagaimana kasih Yesus yang mau mengasihi semua orang termasuk orang-orang berdosa.
Sampai disini pendeta ini masih belum menemukan suatu pengalaman yang baru, tapi ketika pendeta ini sampai pada salah seorang remaja, ketika remaja inipun ditanya apa yang menarik baginya dari perikop zakheus ini dan mengapa. Remaja ini menjawab hal yang menarik bagi dia dalam perikop ini adalah pohon yang dinaiki zakheus agar zakheus bisa melihat Yesus. Pendeta ini sempat bingung dengan jawaban remaja ini, awalnya pendeta ini menyangka remaja ini hanya becanda dan membuat joke agar teman-temannya tertawa, tapi setelah pendeta ini menanyakan mengapa bagi remaja ini bagian pohon yang dinaiki zakheus ini menjadi penting untuknya, pendeta ini melihat wajah serius dari remaja ini yang menunjukan bahwa jawaban dia tadi itu bukan becanda tapi jawaban yang serius. Remaja ini menjawab, bagian pohon yang dinaiki zakheus ini menjadi penting baginya karena ia melihat sebenarnya peran pohon ini cukup besar dalam upaya zakheus bertemu Yesus yang kemudian membuat Yesus mau datang dan makan bersama-sama zakheus dirumahnya, memang sih pohon ini hanya sebagai salah satu alat yang dipakai Yesus untuk menunjukan kasihNya, bisa saja memang Yesus memakai pagar atau pohon-pohon yang lain yang ada ditempat itu, tapi kan yang akhirnya dipakai Yesus sebagai alat agar zakheus dapat melihat Yesus kan pohon yang dinaiki zakheus ini, tapi coba teman-teman lihat dan perhatikan berapa banyak ayat dalam perikop itu yang menjelaskan tentang pohon itu, hanya satu ayat (ayat 4) dan itupun hanya kalimat singkat yang menuliskan bahwa zakheus menaiki pohon ara itu untuk melihat Yesus, tidak dijelaskan dan digambarkan lebih jauh tentang pohon itu, bagaimana bentuk pohon itu, berapa tingginya, lebat atau tidak pohonnya, semuanya tidak dijelaskan dan digambarkan sama sekali, hanya ditulis pohon ara, bahkan setelah itu seolah-olah semua orang berlalu begitu saja tanpa mengingat kembali peran dan jasa pohon ara itu, padahal kalau kita mau melihat ternyata peran pohon itupun cukup besar untuk membawa pertobatan zakheus dan membuat Yesus dapat menunjukan kasihNya yang begitu besar bagi semua orang termasuk orang-orang berdosa.
Memang cerita pengalaman pendeta tadi hanya sekedar cerita pengalaman menarik belaka, tapi saya melihat ada satu makna yang terkandung dalam perkataan remaja tadi.
Kadang-kadang ketika kita menolong atau membantu orang lain ada sedikit sisi manusiawi kita yang ingin dihargai dan diberi sedikit penghormatan, baik oleh orang-orang lain maupun terutama oleh orang yang kita bantu atau kita tolong itu, memang sih sebagai orang Kristen kita seharusnya tidak mengharapkan atau menuntut ucapan terimakasih dari manusia, tapi sebagai manusia kadang-kadang sisi manusiawi kita muncul dan mengharapkan rasa penghargaan dari orang lain atau terutama dari orang yang kita tolong. Ketika kita tidak mendapatkan rasa penghargaan itu dari orang yang kita bantu tadi, atau orang yang kita tolong tadi mengabaikan kebaikan kita, maka kecenderungan timbul sifat manusiawi kita yang lain yaitu rasa sakit hati dan merasa orang yang kita bantu atau tolong tadi merupakan orang yang tidak tahu berterimakasih sehingga kita akan menolak atau tidak ingin lagi membantu atau menolong orang itu dikemudian hari bahkan kita juga tidak mau lagi memperhatikan atau bergaul dengan orang itu.
Begitu juga hal nya dengan pelayanan, saya sering mendengar ada aktifis gereja yang mundur dari pelayanannya karena ia sakit hati atau kecewa terhadap teman-teman sepelayanannya karena ia merasa pelayanan yang ia lakukan tidak dihargai, tidak dianggap oleh orang lain atau teman-teman sepelayanannya. Memang sih sebagai orang Kristen, ketika kita melayani seharusnya kita tidak melihat dan mencari pujian dari manusia, kita melayani semata-mata merupakan ucapan syukur kita atas begitu banyak kasih dan kebaikan yang telah dan selalu Yesus berikan kepada kita. Tapi kadang-kadang tidak jarang sering juga timbul sifat manusiawi kita dalam pelayanan yang kita lakukan, kita ingin pelayanan yang kita lakukan dipuji dan dihargai oleh orang lain terutama oleh teman-teman sepelayanan kita, sehingga ketika kita tidak menemukan atau mendapati pujian atau penghargaan dari pelayanan yang kita lakukan atau kita merasakan seolah-olah pelayanan yang kita lakukan tidak dianggap oleh orang lain ataupun teman-teman sepelayanan kita maka kita pun langsung kecewa dan sakit hati lalu kemudian mundur dari pelayanan kita. Persoalan-persoalan seperti diatas tadi yang sering saya temui ketika saya berbicara dengan teman-teman saya. Memang sebagai manusia cukup sulit untuk kita dapat melapaskan diri dari sifat-sifat manusiawi kedagingan kita yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, kita lebih sering mencari pujian atau pengharaan dari orang lain agar kita terlihat hebat atau terlihat lebih baik dari orang lain. Kita menolong, membantu orang lain agar kita dikatakan orang yang murah hati, baik dan suka menolong. Keinginan-keinginan daging tersebut yang membuat kita pada akhirnya tidak dapat melakukan pelayanan ataupun membantu dan menolong orang lain dengan motivasi yang benar yang sesuai dengan kehendak Tuhan yaitu sebagai bentuk ucapan syukur kita atas segala kebaikan dan kasih yang selalu Tuhan berikan kepada kita. Memang tidak gampang untuk kita menjadi murid-muridNya yang melakukan seturut dengan kehendak Tuhan, tapi marilah mulai saat ini saya ingin mengajak teman-teman agar kita semua dapat sama-sama belajar dari pemahaman remaja tadi akan pohon yang dinaiki zakheus tadi yang walaupun memiliki peran yang cukup besar dalam proses terjadinya perjumpaan antara Yesus dengan zakheus yang pada akhirnya menunjukan kepada kita bagaimana kasih Yesus yang begitu besar kepada semua orang termasuk orang-orang berdosa, tapi kemudian peran pohon itu dilupakan begitu saja dan tidak lagi dianggap memiliki arti. Mungkin memang pohon itu mahluk hidup yang tidak dapat protes ataupun berteriak-teriak ketika ia merasa diabaikan atau tidak dianggap setelah peran yang ia lakukan begitu besar, sedangkan kita sebagai manusia memiliki hati, pikiran dan mulut yang dapat protes ataupun berteriak-teriak ketika kita merasa hal-hal atau peranan jasa yang kita telah lakukan diabaikan atau tidak dianggap oleh orang-orang lain, tapi satu hal yang saya ingin katakan, marilah kita belajar untuk memurnikan motivasi dari tindakan atau pelayanan atau hal-hal yang kita lakukan, biarlah kita dapat menjadi alatNya yang melakukan apapun juga semata-mata sebagai bentuk ucapan syukur kita atas segala kasih dan kebaikanNya yang telah dan selalu Ia berikan dalam kehidupan kita, sehingga dengan demikian walaupun tindakan, pelayanan ataupun hal-hal yang telah kita lakukan itu tidak mendapat perhatian ataupun penghargaan ataupun malah diabaikan dan tidak dianggap oleh orang lain, kita tidak akan mundur, kecewa ataupun sakit hati karena kita sudah dapat menempatkan diri kita sebagai alatNya yang menyerahkan segala tindakan, pelayanan atau hal-hal yang kita lakukan itu semuanya untuk kemuliaanNya.
Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar