Selasa, 15 Desember 2009

Gembala.

Tidak lama lagi kita akan bersama-sama merayakan natal. Setiap natal kita pasti akan kembali diingatkan oleh peran para gembala dalam kisah kelahiran Yesus. Mungkin kita semua telah tahu bagaimana sikap dan perlakuan warga Yahudi terhadap para gembala pada jaman kelahiran Yesus waktu itu. Iya betul, pada waktu itu seorang gembala tidak akan dipandang dan akan diremehkan keberadaannya ditengah-tengah masyarakat. Pada waktu itu para gembala dianggap sebagai orang upahan dan orang miskin yang tidak layak dipandang. Bahkan tidak jarang para gembala harus tidur didalam kandang bersama-sama dengan hewan yang mereka jaga. Namun seperti yang selama ini telah kita ketahui bahwa Yesus bukan tanpa sebab memilih gembala untuk menyatakan dan memberitahu kelahiranNya, selain Yesus ingin mengatakan pada dunia bahwa Yesus tidak membeda-bedakan manusia, Dia tidak memandang rendah gembala seperti pandangan warga Yahudi saat itu, Yesus juga ingin mengambarkan hal-hal positif dari gembala yang akan mencerminkan keberadaanNya di dunia ini.
Teman-teman mungkin pernah membaca bahwa gembala pada waktu itu terkenal sangat bertanggung jawab dan sangat mengasihi hewan-hewan yang dijaganya. Bahkan karena sayangnya gembala pada hewan atau domba-dombanya maka tidak jarang para gembala ini menamai setiap hewan atau domba-dombanya, sehingga dengan mudah ia memanggil para dombanya saat ia sedang menggembalakan domba-dombanya dipadang rumput, bahkan karena kasihnya gembala pada hewan dan domba-dombanya maka setiap gembala mengenal dengan jelas semua domba-domba yang dijaganya, demikian juga sebaliknya domba-dombanya pun mengenal suara dan panggilan dari gembalanya. Bahkan tidak jarang para gembala rela dan berani mempertaruhkan nyawanya ketika ada dombanya yang hilang atauada dombanya yang sedang diganggu oleh hewan-hewan pemangsa lainnya. Karena rasa tanggung jawab dan kasihnya pada domba-domba yang dijaganya maka para gembala rela menahan lapar, cape dan lelah untuk mencari dombanya yang hilang, dan saat ia menemukan dombanya itu kembali maka ia akan sangat bersuka cita dan melupakan semua kesusahan yang ia alami saat mencari dombanya itu.
Karena itulah teman-teman, salah satu hal yang menyebabkan mengapa Yesus memakai gembala untuk menjadi orang yang diberitahu oleh malaikat tentang kelahiran Yesus. Seperti yang telah dikatakan tadi bahwa Yesus tidak memandang rendah dan tidak membeda-bedakan manusia sehingga Ia menggunakan para gembala yang saat itu tidak dianggap dan dipandang rendah oleh masyarakat pada saat itu, selain itu Yesus juga ingin mengatakan bahwa kedatanganNya ke dunia bukanlah sebagai raja yang merebut kekuasaan tapi Ia datang sebagai gembala yang baik, Ia datang karena rasa kasihNya pada kita domba-dombaNya, Ia datang untuk mencari kita domba-dombaNya yang terhilang. Bahkan sebagai gembala yang baik Ia rela datang kedunia dan memberikan nyawaNya untuk mencari dan menyelamatkan kita domba-dombaNya yang hilang.
Begitu berharganya kita bagi Yesus, lalu apa sikap kita menyambut kasih yang Yesus berikan itu?? Tidak lama lagi kita akan memperingati natal, memperingati peristiwa Yesus yang datang karena kasihNya pada kita, Dia datang sebagai gembala yang baik, yang mengenal setiap domba-dombaNya dan yang rela berkorban untuk mencari dan menyelamatkan domba-dombaNya. Lalu bagaimana dengan kita?? Apakah kita juga mau menyambutnya dengan sikap kita menjadi domba yang baik, domba yang mengenal suara dan panggilan dari Dia gembala kita?? Atau kita memilih untuk menjadi domba yang nakal, yang selalu melawan dan lari dari Dia gembala kita?? Semua keputusan ada pada kita, mau seperti apa dan bagaimana kita mau menyambut Dia gembala kita. Namun satu yang pasti, Dia telah datang kedunia karena kasihNya pada kita, Dia datang dengan tidak membeda-bedakan dan memandang rendah kita, Dia datang sebagai gembala yang baik yang mengenal kita setiap domba-dombaNya, dan sebagai gembala yang baik Dia rela berkorban dan memberikan nyawaNya untuk mencari dan menyelamatkan kita domba-dombanya.
Sudah sepatutnya kita mengucap syukur dan berterimakasih atas kasihNya yang bagitu besar pada kita.
Selamat natal dan Tuhan memberkati.
Amin.

Selasa, 08 Desember 2009

Jangan Mau Selalu di Tuduh.

Pernahkah teman-teman merasakan malas untuk berdoa, atau malas untuk membaca Alkitab, atau malas untuk hadir ke kebaktian di gereja atau bahkan malas untuk melayani?? Biasanya ada banyak factor yang menyebabkan kita merasa malas untuk itu semua, tapi ada satu factor yang seringkali menjadi alasan atau menjadi pembenaran bagi kita bila kita tidak melayani, kegereja, berdoa atau membaca Alkitab. Kadang-kadang perasaan tidak layak dan tidak pantas karena dosa-dosa yang telah kita buat, sehingga kita tidak layak untuk berdoa, membaca Alkitab, kegereja dan bahkan melayani.
Perasaan seperti itu seringkali menjadi alasan kita untuk tidak berdoa, membaca Alkitab, ke gereja dan melayani. Saya sering mendengar beberapa teman saya mengungkapkan hal ini sebagai alasan ia undur dari pelayanan. Bahkan secara pribadi saya sendiri pun pernah merasakan perasaan seperti itu yang akhirnya mematahkan semangat dan membuat saya malas untuk melayani.
Perasaan merasa tidak pantas dan tidak layak karena dosa-dosa yang telah kita buat, sebenarnya merupakan hal yang baik, karena dengan demikian artinya kita telah dapat mengkoreksi diri dan menyadari segala perbuatan kita yang salah dan tidak baik. Namun bila perasaan tidak layak dan berdosa ini selalu menuduh kita sehingga pada akhirnya membuat kita menjadi patah semangat atau bahkan membuat kita menjadi malas dan undur dari berdoa, membaca Alkitab, ke gereja atau bahkan undur dari melayani, ini yang harus kita waspadai. Hati-hati bila hal ini yang sudah terjadi pada diri kita, si iblis dapat merubah perasaan menyesal atas dosa-dosa kita menjadi perasaan yang dibuat-buat untuk menjadikan alasan bagi kita untuk undur dari Tuhan. Iblis akan memakai perasaan menyesal kita menjadi sarananya untuk menarik kita jauh dari Tuhan. Iblis akan terus menjadikan dosa kita sebagai alasan untuk menuduh kita sebagai manusia yang sangat kotor, yang tidak akan pernah pantas lagi untuk berdoa, membaca Alkitab, kegereja atau bahkan melayani. Dan bila iblis telah sukses dengan perangkap ini, maka kita akan merasakan bahwa kita tidak lagi pantas dan layak untuk dakat dengan Tuhan, sehingga akhirnya membuat kita patah semangat, malas dan undur dari Tuhan.
Memang perasaan menyesal akan dosa-dosa kita itu baik, namun bila perasaan berdosa itu terus saja menuduh kita menjadi orang yang sangat kotor dan sangat berdosa walaupun sebenarnya kita telah menyesali dosa itu dan minta pengampunan dari Tuhan serta berusaha untuk menjadi lebih baik dan tidak lagi jatuh dalam dosa itu, maka waspadalah mungkin sekali iblis sedang memakai strateginya untuk menjatuhkan kita dan membuat kita semakin jauh dengan Tuhan, karena sebenarnya setiap dosa-dosa kita telah ditanggungNya dan ditebusNya secara lunas diatas kayu salib, selama kita mau menyesali dosa-dosa kita dan memohonkan pengampunanNya serta kembali kejalanNya dan meminta kekuatan dariNya agar kita tidak lagi jatuh kedalam dosa-dosa itu, maka sesungguhnya darah yang telah Yesus curahkan diatas kayu salib itu telah menebus dan membayar lunas dosa-dosa kita itu, sehingga kita sekarang bukan lagi menjadi orang-orang kotor yang tidak pantas dan tidak layak untuk memanggil Dia Bapa.
Teman-teman, sebentar lagi kita akan menyambut natal, merayakan kedatanganNya ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa-dosa kita. Bila memang masih ada dosa-dosa kita yang belum kita akui dan mohon pengampunanNya, maka sekarang marilah kita memohonkan pengampunan atas dosa-dosa kita itu. Karena itulah tujuanNya datang kedunia, yang kita peringati sebagai natal, Dia datang untuk menyelamatkan dan mengampuni dosa-dosa kita umat manusia. Dan bila kita telah selesai memohonkan pengampunanNya, marilah kita menjaga sikap hidup kita untuk selalu ada di jalanNya dan terus berusaha untuk menjadi Anak-AnakNya yang senantiasa menjalankan perintah-perintahNya. setelah itu, jangan mau lagi terus-terusan dan selalu di tuduh oleh si iblis dengan menggunakan dosa-dosa kita untuk membuat kita jauh dan undur dariNya. Marilah kita tanamkan dihati kita dan mengatakan pada si iblis, “maaf, engkau tidak dapat lagi menuduh saya karena Yesus telah datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia termasuk dosa-dosaku telah ditebusNya”.
Amin.

Jumat, 04 Desember 2009

Keledai Bukan Kuda.

Teman-teman sudah pernah melihat keledai?? Tahu atau tidak perbedaan keledai dengan kuda?? Iya, keledai lebih kecil dibandingkan kuda, keledai juga pada waktu itu adalah hewan yang dipelihara oleh orang-orang kecil atau rakyat biasa sedangkan kuda adalah hewan yang pada waktu itu biasanya dipelihara oleh orang-orang kaya yang memiliki uang banyak dan keluarga kerajaan, jadi pada waktu itu keluarga yang memelihara kuda adalah keluarga kerajaan atau minimal keluarga yang kaya sedang keluarga dari rakyat biasa kebanyakan hanya memelihara keledai. Selain itu keledai jalannya lambat, kalau jalan kepala keledai suka menunduk, dan keledai lebih sering dipakai untuk mengangkat beban berat. Sedangkan kuda terlihat sangat kokoh, sangat keren, jalannya tegap dan pada waktu itu kuda lebih sering digunakan untuk menarik kereta perang prajurit atau digunakan sebagai kendaraan bertempur seorang raja atau panglima.
Dari sekian banyak perbedaan antara kuda dan keledai, tampak sekali perbedaan peran, perbedaan perlakukan antara kuda dan keledai. Pada waktu itu tentu saja setiap orang lebih ingin memelihara dan menggunakan kuda daripada keledai, selain membuat orang yang mengendarai kuda akan terlihat lebih berkuasa, menunggang kuda juga dapat menunjukan status social kita yang bukan sebagai rakyat biasa. Namun sayangnya dari Alkitab yang kita baca tentang perikop Yesus yang disambut di Yerusalem, Yesus lebih memilih menunggangi keledai daripada menunggangi kuda saat Ia masuk ke kota Yerusalem. Tapi walaupun begitu, dari bagian Alkitab itupun kita dapat melihat ternyata rakyat di Yerusalem sempat menyambut Yesus sebagai raja ketika Dia masuk ke kota Yerusalem dengan menunggangi keledai.
Dan bila kita mau menyelidiki bagian Alkitab itu lebih dalam lagi, kita tentunya akan menemukan ternyata Yesus ingin menunjukan sesuatu hal kepada kita mengapa Ia memilih menunganggi keledai daripada menunggangi kuda untuk masuk ke kota Yerusalem itu. Ternyata dengan menunganggi keledai, Yesus ingin menunjukan bahwa Ia datang ke dunia bukan sebagai raja yang menyandang pedang dan siap untuk berperang dan mengendarai kuda, namun Ia datang ke dunia sebagai raja yang ingin mengangkat beban dunia, mengangkat beban dosa manusia di dunia, dan untuk itu Ia datang dengan kelemah lembutan bukan dengan penyandang pedang, dengan kekerasan dan siap untuk berperang.
Selain itu dengan menunggangi keledai, Yesus juga ingin menunjukan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang mempertahankan statusNya tapi dengan kasihNya Ia mau meninggalkan status rajanya dan datang kedunia sebagai manusia biasa. Dengan menunggangi keledai, Ia pun ingin mengatakan bahwa Ia datang kedunia untuk semua orang, dan bukan untuk orang-orang kaya saja.
Namun lagi-lagi sayangnya, ego kita sering kali membuat kita kecewa ketika kita membaca bahwa Yesus ternyata hanya menunganggi keledai dan bukan kuda. Ego kita kadang-kadang membuat kita ingin melihat Yesus datang sebagai raja yang berkuasa dan menyandang pedang sehingga semua orang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan raja yang berkuasa atas semua manusia. Kadang-kadang disaat kita merasa sebagai kaum minoritas di Indonesia ini, kita ingin melihat Yesus datang bukan dengan kelemah lembutan tapi datang dengan kekuasaanNya sehingga semua orang memandang kita sebagai orang Kristen dan percaya kepada Yesus. Tapi Yesus tidak menginginkan itu, Dia ingin datang sebagai raja yang menanggung dosa manusia dan datang dengan kelembutan bukan dengan menyandang pedang agar semua orang percaya kepadaNya.
Saat ini kita memasuki bulan Desember, sebagai orang Kristen tentunya kita sibuk menyiapkan acara-acara natal kita, baik acara natal di gereja maupun acara natal di keluarga kita. Namun selain sibuk menyiapkan acara-acara natal itu, ada yang lebih penting kita siapkan untuk menyambut natal, sudahkah kita menyiapkan hati kita untuk menyambut kedatanganNya?? Marilah kita menanggalkan ego kita dan marilah kita menyambut Dia yang datang dalam kelemah lembutan untuk menanggung beban dunia dan mengampuni dosa kita manusia. Sudah selayaknya dan seharusnyalah kita mengucap syukur dan berterimakasih karena ternyata oleh karena kasihNya kepada kita dan semua manusia, Dia mau datang ke dunia, dan dengan karena kasihNya jugalah Dia mau datang sebagai raja yang menunggangi keledai, datang dengan kelemah lembutan, datang untuk mengangkat beban dosa manusia, dan bukan datang dengan menunggangi kuda, datang sebagai raja yang siap berperang dan menyandang pedang untuk menunjukan kuasanya.
Terimakasih Yesus, Engkau mau datang dengan kasih dan kelemah lembutan yang Kau berikan untuk kami semua dan datang untuk menanggung beban dunia serta menebus beban dosa kami. Marilah kita siapkan hati menyambut kedatanganNya.
Amin.

Minggu, 29 November 2009

Melihat Pelangi ditengah Badai.

Melihat pelangi ditengah badai mungkin sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keadaan saya dan keluarga kami beberapa minggu yang lalu.
Semenjak pertengahan bulan November yang lalu saya mulai agak jarang memperbaharui tulisan renungan di blog saya ini, selain karena computer saya yang sedang bermasalah, kesehatan saya dan ibu saya pun pertengahan November lalu mengalami sedikit masalah. Masalah kesehatan saya dan ibu saya ini yang membuat saya melihat pelangi ditengah badai.
Sekitar pertengahan bulan yang lalu, saya dan ibu saya mengalami sedikit masalah pada kesehatan kami, menurut dokter yang memeriksa kami, kami mengalami keracunan CO2 atau keracunan gas karbon. Menurut pandangan dan pendapat beberapa orang, keluarga kami mengalami musibah yang sangat menyedihkan. Memang kebetulan perekonomian keluarga kami cukup untuk kebutuhan hari lepas hari keluarga kami, tapi kami tidak memiliki persediaan dana untuk biaya berobat seperti keluarga lain yang selalu menyisihkan dan penyiapkan dana berobat bila sewaktu-waktu anggota keluarga mereka sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Masalah dana ini yang membuat beberapa orang mengatakan keluarga kami mengalami musibah yang menyedihkan, belum lagi mereka melihat apa yang menimpa kami, yaitu berupa keracunan gas CO2, membuat mereka benar-benar merasa bahwa keluarga kami mengalami musibah yang menyedihkan. Namun kenyataannya ditengah masalah keuangan dan masalah kesehatan yang membelit keluarga kami, ternyata dari sana kami dapat melihat berkat-berkat dan penyertaan Tuhan seperti pelangi yang senantiasa hadir sehabis hujan seperti janjiNya.
Ditengah masalah masalah kesehatan kami, saya melihat bagaimana penyertaanNya begitu nyata dalam kehidupan kami. Ia meluputkan kami dari maut dengan cara-cara yang mengagumkan. Dia memakai orang-orang yang tidak diduga untuk meluputkan kami dari bahaya lebih besar yang mungkin akan membuat kesehatan kami semakin memburuk, penyertaanNya begitu nyata ketika tanpa diduga oleh pikiran kita sebagai manusia, Dia memakai seorang tukang gali sumur untuk menolong dan menemukan kami yang sedang pingsan karena keracunan gas CO2. Menurut dokter, kami diketemukan pada waktu yang tepat, karena bila pingsan akibat keracunan CO2 itu dibiarkan terlalu lama maka akan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih buruk.
Begitu juga untuk masalah keuangan biaya berobat, Dia pun menunjukan penyertaanNya melalui berkat-berkatNya yang Dia berikan melalui orang-orang yang tidak kita duga dan pikirkan. Dia selalu mempunyai cara-cara yang tepat untuk menyatakan penyertaan dan kasihNya kepada setiap umatNya. Itulah yang saya katakan dengan ungkapan, selalu ada pelangi ditengah badai. Selalu ada pelangi sehabis hujan, tepat seperti apa yang telah Ia janjikan.
Oleh karena itu teman-teman, dalam memandang masalah yang sedang kita hadapi dalam hidup ini, kita dapat memandangnya dari berbagai macam sudut pandang. Kita dapat terpaku dan terus berfokus pada masalah yang ada, yang akhirnya membuat kita merasa seolah-olah masalah yang sedang kita hadapi itu begitu besar dan menakutkan serta tidak ada jalan keluar untuk menghadapi masalah itu, bahkan seolah-olah Tuhan pun tidak mampu membantu kita dalam masalah itu. Sehingga kita merasa seolah-olah kita sedang mengalami musibah yang begitu besar dan menyedihkan. Atau kita dapat memandang masalah sebagai hal yang biasa dalam kehidupan ini, dan kita yakin bahwa setiap masalah yang kita hadapi akan selalu ada tanggan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Dengan pemikiran seperti itu akan membuat kita mampu melihat pelangi penyertaan Tuhan ditengah badai masalah yang sedang kita hadapi. Dan dengan melihat pelangi penyertaan Tuhan itu akan membuat kita teguh dan kuat dalam menghadapi masalah yang sedang kita hadapi itu, karena kita yakin kita tidak dibiarkannya berjalan menghadapi masalah ini sendiri, Ia ada disamping dan senantiasa menyertai kita.
Kiranya kita dapat belajar untuk mulai merubah cara pandang kita terhadap masalah yang ada, sehingga cara pandang kita tidak lagi terfokus hanya pada masalah yang sedang kita hadapi itu, tapi kita dapat memandang pelangi penyertaanNya dalam masalah yang kita hadapi. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melihat pelangi kasihNya dalam setiap kehidupan kita.
Amin.

Selasa, 10 November 2009

Doa bukanlah mantra.

Ada seorang pemuda yang dahulu aktif melayani dan selalu datang setiap ada acara-acara gereja, namun sekarang pemuda ini berubah total, ia tidak lagi mau ikut terlibat dalam acara-acara gereja bahkan ia juga jarang sekali mau datang lagi pada kebaktian-kebaktian setiap hari minggu. Ketika suatu waktu ada kesempatan, saya sempat bertanya kepada pemuda ini mengapa ia sekarang sudah jarang sekali terlihat di kebaktian-kebaktian setiap hari minggu?? Awalnya sih pemuda ini menjawabnya dengan basa-basi bahwa ia sedang sibuk bekerja sehingga kadang-kadang hari minggu pun ia sering harus masuk kerja karena banyak kerjaan yang menunggu. Namun setelah cukup lama kami ngobrol barulah pemuda ini mau menceritakan mengapa sesungguhnya ia sekarang jarang lagi terlihat mengikuti kebaktian-kebaktian minggu dan juga jarang lagi mau terlibat pada acara-acara gerejawi, ternyata dia sedang marahkepada Tuhan. Pemuda ini kesal dan tidak lagi mau dekat dengan Tuhan karena menurutnya percuma saja selama ini dia aktif kegereja dan aktif melayani, bahkan percuma juga ia selama ini selalu menjalankan saat teduh dan doa pribadi setiap hari. Dia merasa selama ini setiap apapun yang ia minta melalui doa kepada tuhan selalu saja tidak diberi, bahkan tidak jarang setiap permintaannya dijawab Tuhan dengan memberikan yang sebaliknya dari apa yang ia minta. Ia kecewa pada Tuhan karena ia merasa doa-doanya tidak diperhatikan Tuhan. Bahkan ia sampai pada suatu kesimpulan konyol bahwa menurut dia ternyata meminta melalui berdoa kepada Tuhan itu lebih sulit dipenuhi daripada meminta melalui doa-doa dengan mantra-mantra seperti yang dilakukan oleh dukun-dukun. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan semua doa-doanya kepada Tuhan dan saat teduhnya, bahkan ia juga memutuskan untuk menghentikan kegiatannya melayani dan datang kegereja sampai semua doa-doanya kepada Tuhan dikabulkan. Pemuda ini mengatakan “masa berdoa kepada Tuhan kalah manjurnya sama doa mantra dukun-dukun itu”.
Menanggapi perkataan dia ini saya hanya berkata kepadanya bahwa doa kita kepada Tuhan itu bukanlah sebuah mantra yang kita anggap sebagai kata-kata sakti sehingga dapat diperbandingkan dengan doa mantra yang dilakukan dukun-dukun itu. Doa kita kepada Tuhan sesungguhnya adalah salah satu bentuk ucapan syukur kita atas segala kasih dan kebaikanNya yang telah dan selalu Ia berikan kepada kita. Sebenarnya kita tidaklah mempunyai hak apa-apa untuk meminta apapun juga kepadaNya, namun karena kasih dan kebaikanNya kepada kita sehingga Ia menjadikan kita Anak-AnakNya dan diberikan kesempatan untuk meminta kepadaNya selaku Bapa kita.
Satu hal lagi yang saya sampaikan kepada pemuda ini, saya memberikan beberapa petikan kata-kata hikmat yang pernah saya dengar :
Ingatlah, ketika kita berdoa meminta kekuatan, Allah memberikan kita kesulitan-kesulitan agar membuat kita kuat.
Ketika kita berdoa meminta hikmat, Allah memberikan kita masalah-masalah yang harus kita pecahkan.
Ketika kita berdoa meminta rejeki, Allah memberikan kita tenaga serta otak agar kita dapat bekerja.
Ketika kita berdoa meminta keberanian, Allah menghadapkan kita bahaya-bahaya yang harus kita hadapi.
Ketika kita berdoa meminta kesabaran, Allah menempatkan kita pada situasi-situasi dimana kita harus menunggu.
Ketika kita berdoa meminta hati yang penuh kasih, Allah memberikan kita teman-teman yang membutuhkan pertolongan kita.
Ketika kita berdoa meminta pertolonganNya, Allah memberikan kita sahabat-sahabat yang siap menolong kita.
Saya menutup percakapan saya dengan pemuda ini dengan satu kalimat “kita mungkin tidaklah selalu menerima segala sesuatu yang kita minta dan yang kita inginkan melalui doa kepadaNya, namun kita akan selalu menerima segala sesuatu yang kita butuhkan.”
Amin.

Rabu, 04 November 2009

Hosana...Hosana VS Salibkan Dia...salibkan Dia.

Utara dan selatan, api dan air, pujian dan cacian, hosana dan salibkan Dia. Itu semua adalah dua hal berbeda, berlawanan serta bertolak belakang. Dua hal yang sepertinya sulit ataupun hampir mustahil untuk dijadikan satu. Namun bila kita lihat dalam Alkitab, ternyata orang-orang di Yerusalem dapat berbuat hal yang berlawanan dan bertolak belakang itu menjadi satu. Bila kita lihat dalam Markus 11:1-11, disana kita melihat bagaimana orang-orang di Yerusalem begitu bersemangat dan antusias ketika menyambut Yesus yang datang ke Yerusalem dengan menunggangi keledai, mereka berseru-seru dengan gembira hosana..hosana diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Begitu indahnya pujian-pujian yang diberikan orang-orang di Yerusalem untuk menyambut Yesus, bahkan mereka menebarkan pakaian mereka serta ranting-ranting hijau untuk mengalasi jalan tempat Yesus akan melintas. Namun tidak lama kemudian di perikop yang lain, Markus 15:1-15, kita melihat orang-orang yang sama, yaitu orang-orang di Yerusalem berseru-seru salibkan Dia…salibkan Dia. Sedih sekali bila mengingat belum lama mereka berseru hosana…hosana, kemudian mereka berseru salibkan Dia…salibkan Dia. Dua hal yang bertolak belakang, yang sulit untuk disatukan namun ternyata dilakukan oleh orang-orang di Yerusalem. Mungkin ketika kita membaca dua perikop yang bertolak belakang ini, kita memikirkan mengapa orang-orang di Yerusalem begitu dapat cepat berubah bahkan berubah total. Memang ada beberapa hal yang mungkin dapat menjadi sebab atau alasan mengapa orang-orang di Yerusalem dapat berubah seperti itu, mungkin salah satu alasannya adalah mereka terbujuk oleh omongan-omongan para imam-imam kepala yang memang sudah membenci Yesus. Namun di hal lain kita juga dapat melihat bahwa factor iman atau pengenalan mereka tentang Yesus juga merupakan salah satu hal yang membuat mereka dapat berubah seperti itu, iman mereka dan pengenalan mereka terhadap Yesus ternyata tidak cukup baik dan benar untuk membuat mereka benar-benar percaya, beriman dan mengenal Yesus dengan benar, sehingga ketika mereka mendengar omongan-omongan dan bujukan-bujukan dari iman-imam kepala, mereka goyah dan tidak lagi dapat berpegang pada iman serta pengenalan mereka kepada Yesus.
Teman-teman, mungkin kita bukanlah orang yang berseru-seru salibkan Dia…salibkan Dia, namun bila kita mau jujur, mungkin sekali dalam tingkah laku kita sehari-hari kitapun seperti orang-orang di Yerusalem yang berseru-seru hosana..hosana serta salibkan Dia…salibkan Dia.
Hari minggu kita begitu bersemangat menaikan puji-pujian kepada Tuhan, bahkan tidak jarang beberapa lagu yang dinyanyikan membuat kita sedikit menitikan air mata karena harunya, kita bersemangat mendengarkan penjelasan Alkitab yang dibawakan oleh Pendeta. Namun hari senin, selasa, ketika datang pencobaan-pencobaan, halangan-halangan, kesulitan-kesulitan atau bahkan kesenangan-kesenangan, membuat kita lupa apa yang baru saja kita lakukan pada hari minggu kemarin, kita berubah total, kita tidak lagi memuji Tuhan, dengan mulut yang sama yang hari minggu lalu kita pakai untuk memuji Tuhan kini kita pakai untuk mempertanyakan dimana Tuhan, kita berontak dan mengatakan Tuhan tidak adil, Tuhan tidak sayang dan memperdulikan saya.
Atau mungkin tingkah laku kita, ketika hari minggu kita begitu ramah, menyapa orang dengan senyum dan penuh kasih, memperhatikan dan menolong yang membutuhkan, persis seperti yang dikehendaki Tuhan. Namun ketika hari senin, selasa, ketika tekanan dalam kerjaan, tekanan dalam pelajaran, tekanan dari pacar, tekanan keuangan, membuat kita lupa apa yang telah kita lakukan hari minggu yang lalu, kita berubah total menjadi orang yang pemarah, orang yang egois, orang yang serakah,orang yang mementingkan keinginan kita sendiri, orang yang tidak lagi mau memperhatikan sesama, kita melakukan semua hal yang membuat Tuhan sedih.
Mungkin sekarang bukan lagi omongan-omongan atau bujukan-bujukan imam-imam kepala yang membuat kita berubah seperti itu. Mungkin sekarang kekuatiran kita, kekuatiran akan pekerjaan kita, kekuatiran akan pelajaran kita, kekuatiran akan kesehatan kita, kekuatiran akan keuangan kita, ataupun kekuatiran-kekuatiran kita yang lain yang membuat kita berubah, seperti orang-orang di Yerusalem yang memuji-muji Tuhan namun kemudian berteriak salibkan Dia…salibkan Dia .
Namun satu yang sama, seperti orang-orang di Yerusalem yang dapat terbujuk oleh omongan-omongan imam-imam kepala karena iman dan pengenalan mereka yang kurang atau pengenalan mereka yang tidak benar akan Yesus. Demikian juga kita, mungkin karena iman dan pengenalan kita yang kurang atau pengenalan kita yang tidak benar akan Yesus yang membuat kita berubah ketika menghadapi kekuatiran-kekuatiran dalam hidup kita. Kita hanya mau mengenal Yesus sebagai Allah yang harus menuruti semua keinginan kita, kita hanya mau mengenal Yesus sebagai Allah yang harus selalu memenuhi ambisi kita. Maka ketika semua keinginan atau ambisi kita tidak terpenuhi, dengan segera kita berpaling dan meninggalkan Tuhan.
Oleh karena itu teman-teman, marilah mulai hari ini kita sama-sama memperbaiki iman dan keyakinan kita akan Yesus serta pengenalan-pengenalan kita denganNya. Marilah kita meningkatkan pengenalan kita kepada Yesus melalui doa-doa, saat teduh, serta tekun membaca dan mempelajari Alkitab dengan benar. Dengan iman dan pengenalan kita yang benar akan Yesus, akan membuat kita mampu melewati dan menghadapi cobaan, masalah-masalah maupun kekuatiran-kekuatiran hidup kita tanpa membuat kita berubah dari memuji Tuhan menjadi meninggalkanNya. Kita tidak akan lagi mendapati mulut kita yang hari minggu kita pakai untuk memuji Tuhan namun hari-hari berikutnya kita meragukan bahkan mencibir Dia. Kita tidak akan lagi menemukan sikap yang baik serta berkenan kepadaNya yang kita lakukan pada hari minggu namun hari-hari selanjutnya sikap kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri dan menyedihkan Tuhan.
Kiranya iman serta pengenalan kita yang benar akan Yesus, akan memampukan kita senantiasa kuat berjalan dijalanNya dan membuat kita menjadi AnakNya yang selalu patuh melakukan kehendakNya, serta tidak berubah seperti orang-orang yang tidak mengenalNya.
Amin.

Minggu, 01 November 2009

Belajar dari teladan cicak.

Cicak menjadi salahsatu binatang yang sering dibicarakan orang beberapa waktu belakangan ini. Kalau kita ingat perseteruan KPK dan Kepolisian yang memunculkan istilah politik cicak VS buaya, maka cicak menjadi salahsatu binatang yang sedang banyak dibahas dan diperhatikan orang. Sebagian orang mungkin merasa cicak sebagai salahsatu binatang menjijikan yang lebih dianggap sebagai binatang kecil yang tidak berguna.
Memang cicak adalah salahsatu binatang kecil yang relative cukup mudah untuk ditangkap, namun bila kita mau belajar dan melihat teladan dari cicak, maka kita akan melihat dan menemukan beberapa hal penting dan menarik dari kehidupan cicak ini yang dapat kita pelajari dan jadikan teladan. Coba kita perhatikan, rumah kecil sampai rumah yang besar, rumah pemulung sampai istana rumah president mungkin sekali akan dapat kita temukan cicak disana. Walaupun cicak dianggap sebagai salahsatu binatang yang menjijikan dan mungkin dijauhi beberapa orang, namun nyatanya cicak selalu ada disemua tempat dari rumah kecil sampai istana rumah president.
Hal lain yang menarik dari kehidupan cicak, walaupun keberadaannya tidak pernah dianggap berarti dan diperdulikan orang, namun tetap saja cicak itu melakukan kegiatan sehari-harinya yaitu memangsa nyamuk dan binatang-binatang kecil yang ada dirumah. Diakui maupun tidak diakui, cicak juga mempunyai peranan yang berarti dalam membantu kita mengurangi nyamuk dan binatang-binatang kecil yang menganggu dirumah kita. Memang keberadaan dan peran cicak yang memangsa nyamuk dan binatang-binatang kecil dirumah kita tidak bisa 100% menghilangkan nyamuk dan binatang-binatang kecil itu dari rumah kita, namun disadari atau tidak cicak tetap berperan dalam mengurangi keberadaan nyamuk dan binatang-binatang kecil yang menganggu dirumah kita.
Bila kita mau kembali pada Alkitab, ternyata Alkitab juga pernah mencatat cicak sebagai salahsatu binatang yang perlu kita teladani keberadaannya, Amsal 30:28. Ternyata cicak, salahsatu binatang kecil yang ada disekitar kita, menjadi salahsatu binatang yang menurut penulis kitab Amsal merupakan binatang yang perlu kita perhatikan dan teladani kehidupannya.
Seperti yang telah kita bicarakan diatas tadi, keberadaan cicak walaupun relative mudah ditangkap, namun tetap saja keberadaannya menjadi bagian dari setiap rumah yang ada, mulai dari rumah kecil sampai istana rumah raja. Dari sini kita dapat mengambil teladan, walaupun mungkin keberadaan kita sebagai orang Kristen relative mudah ditekan namun kiranya keberadaan kita dapat menjadi seperti cicak yang selalu ada dimana saja. Sebagai orang Kristen yang mungkin relative mudah ditekan, kita tetap siap dan ada dimana saja, kita tidak memilih-milih tempat, memilih tempat yang enak dan nyaman saja, namun seperti cicak yang keberadaannya ada dimana-mana, kiranya kita sebagai orang Kristen tetap mau bersedia ditempatkan Tuhan dimanapun sehingga keberadaan kita sebagai orang Kristen ada dimana-mana. Namun kiranya keberadaan kita itu tidak hanya berhenti pada sekedar keberadaan atau ada saja. Seperti cicak yang keberadaannya disetiap rumah dan menjalankan perannya sebagai pemangsa nyamuk dan binatang kecil, begitu juga kita sebagai orang Kristen, kiranya keberadaan kita disetiap tempat dapat mewujudkan peran kita sebagai orang Kristen yang membawa dan menyebarkan kasih Tuhan kepada orang lain yang ada disekitar kita. Seperti cicak yang tidak dianggap dan tidak diperhatikan namun tetap berperan memangsa nyamuk dan binatang kecil, begitu juga kiranya kita sebagai orang Kristen, walaupun mungkin keberadaan kita tidak dianggap atau diperdulikan oleh orang lain namun kiranya keberadaan kita tetap dapat menunjukan peran dan tanggungjawab kita sebagai orang Kristen yang menjadi pembawa damai dan kasih Tuhan. Walaupun keberadaan cicak tidak 100% dapat menghilangkan nyamuk dan binatang kecil dari rumah kita, namun keberadaannya tetap berarti dan membantu mengurangi atau meminimalkan gangguan nyamuk dan binatang kecil dalam rumah kita. demikian pula seharusnya kita, sebagai orang Kristen mungkin keberadaan kita tidak dapat 100% membawa perubahan dalam dunia ini, namun kiranya keberadaan kita sebagai orang Kristen mampu mengurangi atau meminimalkan keburukan yang ada disekitar kita dengan damai dan kasih Tuhan yang senantiasa kita bawa dan kita bagikan kepada orang-orang disekitar kita dimanapun kita berada.
Kiranya mulai saat ini kita dapat belajar dan mengambil teladan dari cicak yang walaupun binatang kecil dan mungkin bagi sebagian orang merupakan binatang yang menjijikan dan relative mudah ditangkap, namun tetap saja cicak membawa peranan bagi manusia dimanapun ia berada. Kiranya keberadaan kita sebagai orang Kristen, yang mungkin mudah ditekan, tetap membawa peranan yang penting bagi orang lain dimanapun kita berada.
Amin.